Senin, 03 Juni 2013

TUGAS SOFTSKILL 3 , BAHASA INDONESIA 2


  • NUR FEBRIANTO
  • 19210778
  • 3EA18

RESENSI
Menulis resensi merupakan proses menuangkan atau memaparkan nilai sebuah hasil karya atau buku berdasarkan tataan tertentu. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi dan pertimbangan baik-buruknya, cermat-cerobohnya, benar-salahnya, kuat-lemahnya, dan manfaat-mubazirnya suatu topik buku (Saryono, 1997:54).
Pada dasarnya, keterampilan menulis resensi tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur. Selain itu, menulis resensi merupakan suatu proses perkembangan. Seperti halnya, dengan kegiatan menulis pada umumnya, menulis resensi menuntut pengalaman, waktu, kesempatan, latihan, dan keterampilan- keterampilan khusus, serta pengajaran langsung menjadi seorang peresensi.
Dalam menulis resensi, peresensi perlu memperhatikan pola tulisan resensi. Ada tiga pola tulisan resensi buku, yaitu meringkas, menjabarkan, dan mengulas. Meringkas (sinopsis) berarti menyajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Menjabarkan berarti mendeskripsikan hal-hal menonjol dari sinopsis yang sudah dilakukan. Bila perlu bagian-bagian yang mendukung uraian dikutip.
Mengulas berarti menyajikan ulasan sebagai berikut: (1) isi pernyataan atau materi buku sudah dipadatkan dan dijabarkan kemudian diinterpretasikan, (2) organisasi atau kerangka buku, (3) bahasa, (4) kesalahan cetak, (5) komparasi dengan buku-buku sejenis, baik karya pengarang sendiri maupun pengarang lain, dan (6) menilai, mencakup kesan peresensi terhadap buku terutama keunggulan dan kelemahan buku (Samad, 1997:5—6).
Hakikat  Resensi
Dunia perbukuan di tanah air semakin marak pada tahun-tahun terakhir. Para penulis, baik yang sudah profesional maupun pemula, berlomba-lomba untuk mengirimkan tulisannya ke penerbit. Beberapa penerbit pun tidak segan-segan untuk mengumumkan secara terbuka akan kebutuhannya terhadap naskah. Perkembangan aktivitas perbukuan pun dibarengi dengan perkembangan media massa.
Media massa berani memberikan ruang untuk para pembaca yang ingin menuangkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Hal ini dibuktikan dengan adanya kolom surat pembaca, artikel, dan opini untuk edisi harian. Sedangkan tiap minggu tersedia kolom cerpen, humor, dan resensi. Hal ini tentunya merupakan pertanda budaya menulis di Indonesia mulai tumbuh dan berkembang.
Akan tetapi, perkembangan budaya menulis di tanah air belum sepenuhnya dibarengi dengan budaya membaca. Sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengetahui dan memahami pentingnya membaca. Hal ini seolah menjadi dua sisi mata uang. Namun, dari sudut pandang lain akan menjadi sebuah simbiosis mutualisme antara budaya menulis dengan budaya membaca.
Mengapa bisa dikatakan seperti itu? Dunia perbukuan yang ramai memberi peluang banyaknya buku yang diterbitkan dengan tema serupa. Hal tersebut akan mengakibatkan masyarakat pembaca kebingungan untuk membeli dan membaca buku-buku tersebut. Di sinilah letak hubungan yang saling menguntungkan tersebut. Para penulis yang peduli dengan keadaan ini berusaha untuk memecahkan masalah tersebut dengan menyusun resensi. Bentuk tulisan resensi akan sangat membantu para pembaca yang kebingungan ingin memilih, membeli, atau sekedar membaca buku-buku yang terbit tersebut.
Resensi merupakan salah satu bentuk tulisan jurnalistik yang bertujuan untuk mendeskripsikan dan memberi pertimbangan kepada pembaca mengenai sebuah buku yang baru diterbitkan. Secara sederhana, resensi dapat dianggap sebagai bentuk tulisan yang merupakan perpaduan antara ringkasan dan ikhtisar berisi penilaian, ringkasan isi buku, pembahasan, atau kritik terhadap buku tersebut. Bentuk tulisan ini bergerak di subyektivitas peresensinya dengan bekal pengetahuan yang dimilikinya tentang bidang itu. Resensi memiliki bagian-bagian penting di dalamnya, diantaranya judul resensi, identitas buku, bagian pembuka resensi yang memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan bagian penutup.
Resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere yang artinya melihat kembali, menimbang atau menilai. Arti yang sama untuk istilah tersebut dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review, sedangkan dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie. Tiga istilah tersebut mengacu pada hal yang sama, yakni mengulas sebuah buku.
Merujuk pada pengertian secara istilah tersebut, WJS. Poerwadarminta (dalam Romli, 2003:75) mendefinisikan resensi secara bahasa sebagai pertimbangan atau perbincangan tentang sebuah buku yang menilai kelebihan atau kekurangan buku tersebut, menarik-tidaknya tema dan isi buku, kritikan, dan memberi dorongan kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca dan dimiliki atau dibeli. Perbincangan buku tersebut dimuat di surat kabar atau majalah. Pendapat ini diperkuat oleh Samad (1997:1) yang menyatakan bahwa tindakan meresensi buku dapat berarti memberikan penilaian, mengungkap kembali isi buku, membahas, atau mengritik buku.

Pendapat yang berbeda diungkapkan oleh Saryono (1997:56) mengenai definisi resensi, yaitu sebuah tulisan berupa esai dan bukan merupakan bagian suatu ulasan yang lebih besar mengenai sebuah buku. Isinya adalah laporan, ulasan, dan pertimbangan baik-buruknya, kuat-lemahnya, bermanfaat-tidaknya , benar-salahnya, argumentatif- tidaknya buku tersebut. Tulisan tersebut didukung dengan ilustrasi buku yang diresensi, baik berupa foto buku atau foto copi sampul buku.
Dari beberapa pendapat di atas mengenai definisi resensi, dapat disimpulkan bahwa resensi adalah suatu karangan atau tulisan yang mencakup judul resensi, identitas buku, pembukaan dengan memaparkan kepengarangan, tema, golongan buku, isi atau tubuh resensi yang memaparkan ikhtisar, ulasan serta kutipan, dan kelemahan juga kelebihan buku, dan penutup kepada khalayak tentang perlu tidaknya buku tersebut dibaca, dimiliki, atau dibeli.
Untuk memberi pertimbangan atau penilaian secara objektif atas sebuah hasil karya atau buku, penulis resensi harus memperhatikan dua faktor:
1.Penulis resensi harus memahami sepenuhnya tujuan pengarang buku. Hal ini dapat dilihat dari Kata Pengantar.
2.Penulis resensi harus menyadari sepenuhnya apa maksudnya membuat resensi.
Adapun struktur dari resensi adalah sebagai berikut:
1.Tema resensi
Tujuannya untuk menarik pembaca
2.Deskripsi isi buku
Dengan deskripsi, pembaca yang belum tahu, dapat memperoleh gambaran tentang isi buku tersebut. Deskripsi buku tidak hanya terdisri dari isi buku, melainkan juga identitasnya. Antara lain: penerbit, tahun terbit, tempat terbit, tebal buku, format (ukuran), dan harga.
Penulis resensi juga dapat memperkenalkan pengarang/penulis bukunya, missal: nama, ketenarannya, dan buku atau karyanya.
3.Jenis buku
Penulis resensi juga harus mencantumkan jenis buku tersebut, baik secara eksplisit maupun implisit.
4.Keunggulan dan kekurangan buku
Untuk menentukan keunggulan dan kekurangan buku, dapat dilihat berdasarkan:
a.Organisasi (kerangka)
b.Isi -> apakah sudah jelas/tuntas, ada uraian/contoh tidak, berikut pembahasannya.
c.Teknik -> perwajahan (lay-out), kebersihan, pencetakan kata-katanya, tanda baca, dst.
5.Nilai buku
Penulis resensi juga harus memberikan sugesti kepada pembaca, apakah buku tersebut layak dibaca atau tidak. Tetapi penilaian yang diberikan harus objektif.

CONTOH RESENSI :
JUDUL : AYAT AYAT CINTA
Penulis: Habiburrahman El Shirazy
Penerbit Republika
Hal: ix + 418
Peresensi: Diansya


              Penasaran sekali dengan novel ini. Apa sih isinya? Dan seperti apa? Sampai heboh dimana-mana.        
              Awal baca, aku sedikit menyalahkan beberapa orang yang meresensi. Masa seperti ini novel sih? Kupikir malah terlalu banyak teori. Belum lagi istilah-istilah asing yang sangat banyak. Semakin membaca, istilah asingnya semakin banyak, ada Arab, Jerman dan Inggris hi..(kalau Inggris sih, dasar sayanya yang emang minimal banget). Jadi kepikir kalau aku nulis istilah nihonggonya kebanyakan, emang bener, bakalan banyak diprotes orang.
              Tapi bukan berarti tidak menarik. Kurasakan perasaan yang sulit diungkapkan, membaca di zaman seperti ini, ada orang yang haus ilmu. Mengaji pada seorang ustadz. Dengan jarak puluhan kilometer, ditempuh dalam waktu tidak sebentar. Sungguh, itu sebuah kabar yang jarang sekali kudengar. Biasanya adalah menceriterakan kisah salafushsholih saat menuntut ilmu. Tapi ini dijaman sekarang? Apalagi itu dilakukan dalam keadaan terik matahari musim panas di Mesir yang mencapai 40 derajat lebih. Subhanalloh. Eh, aku justeru nangisnya di sini. Di belakang-belakang saat adegan-adegan ‘novel’ kok malah ga keluar air matanya ya? Menurutku sih kisah percintaannya biasa-biasa saja.
              Ada juga saat menceriterakan mimpi Fahri saat bertemu dengan Ibnu Mas’ud. Membuat perasaan saya ikut mengharu-biru.Tidak salah memang kalau novel ini disebut novel penggugah jiwa. 

              Ada memang beberapa yang kulompat membacanya. Gimana ya, terlalu ilmiah yang menuntut untuk berpikir. Tidak beda dengan membaca buku fiksi, dan yang pasti karena nggak sabar dengan cerita yang dibilang orang-orang seru. Mana sih adegan empat orang wanita yang mencintai Fahri ini?

Di pertengahan lebih buku itu, aku baru merasa membaca novel. Adegan demi adegan mengalir bagus. Kisah Fahri yang ingin menikah, kemudian ada perang batin di saat-saat memutuskan untuk menikah, karena ada wanita lain.
Ada adegan-adegan sepasang pengantin baru disini. Kata pengantarnya, jadi benar-benar seperti novel asmara (ah, apakah novel asmara harus seperti itu??) Saya membayangkan bila belum nikah, baca itu rasanya mungkin risih juga...
             
Selanjutnya ada adegan dalam penjara Mesir saat Fahri dipenjara. Itu juga mengingatkan saat-saat para ulama dipenjara.
             
              Tak jauh dari masalah keluarga dan wanita. Poligami. Dengan siapa?? Baca aja sendiri he..Happy/sad ending yah novel ini? Akhir cerita memang syahdu, tapi rasanya bukan sad ending. Karena setelah itu rasanya Fahri bahagia bersama isterinya.
             
              Akhirnya, buku ini (bukan novel he..) bisa dibaca oleh semua orang. Bagi yang masih kurang menyukai novel, buku ini tidak melulu adegan-adegan kehidupan seperti novel-novel pada umumnya. Banyak sekali ilmu di dalamnya. Dalam dunia penulisan, seringkali dibilang kalau bisa jangan terlalu “ini ibu Budi” sekali dalam menuliskan hikmah. Namun dalam buku ini tidak hanya “ini ibu Budi..” bahkan banyak dalil-dalil didalamnya Mulai dari masalah pandangan wanita dalam Islam, pergaulan dengan non muslim dan banyak lagi. Namun saya merasakan tidak digurui. Mungkin karena dalam konteks ini malah justeru kelihatan ilmiah.
Dan bagi yang masih malas membaca buku-buku yang ilmiah, buku ini juga cocok karena dipadukan dengan kisah yang sangat menawan.
 Hemmm...intinya sih, saya puas baca buku ini. Bagus.

SUMBER :

Minggu, 02 Juni 2013

TUGAS KE 2 SOFTSKILL BAHASA INDONESIA 2

NUR FEBRIANTO
19210778
3EA18
 
 
 
 
 BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Perkembangan usaha dagang di indonesia semakin pesat, membuat produsen bersaing dengan ketat dalam hal menciptakan kepuasaan konsumen. Dengan semakin banyaknya usaha dagang sejenis membuat perusahaan harus bergerak agresif agar dapat memenangkan pangsa pasar dan meningkatkan pertumbuhan pelanggan, untuk mencapai tujuan perusahaan yang pada dasarnya adalah mencari laba semaksimal mungkin.
Untuk itu perusahaan harus semakin gencar untuk menarik minat dan perhatian konsumen agar mau membeli produknya. Tidak heran berbagai strategi digunakan untuk memperoleh hasil yang memuaskan. Oleh karena itu untuk mencapai target penjualan tertentu digunakan berbagai bentuk usaha untuk merebut dan menarik minat pembeli. Dianataranya dengan menggunakan kegiatan promosi yang mempunyai peran penting yang diharapkan untuk kelangsungan hidup perusahaan agar dapat dipertahankan.
 Promosi merupakan salah satu unsur penting dari strategi pemasaran yang
harus di laksanakan. Keefektifitasan promosi sebagai salah satu alat pendukung dalam meningkatkan volume penjualan sudah banyak terbukti, sehingga tidak mengherankan apabila biaya promosi yang dikeluarkan perusahaan cenderung meningkat setiap tahunnya. Hal ini karena melalui kegiatan promosi, maka produk akan lebih dikenal oleh masyarakat dan mendorong masyarakat untuk membeli. Melihat perkembangan yang sedemikian rupa.
Mengingat pentingnya peran promosi dalam suatu perusahaan maka penulis tertarik untuk membuat penelitian ilmuah ini dengan judul “PENGARUH BIAYA PROMOSI TERHADAP HASIL PENJUALAN PADA RUMAH MAKAN MARGAJAYA“
1.2 Rumusan Masalah dan Batasan Masalah
1.2.1  Rumusan Masalah
      Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka dapat di identifikasikan beberapa masalah yaitu :
1.      Bagaimana Pelaksanaan Biaya Promosi yang dilakukan oleh Rumah Makan Margajaya?
2.      Apakah biaya promosi berpengaruh terhadap hasil penjualan pada Rumah Makan Margajaya?
1.2.2        Batasan Masalah
Dalam penulisan ilmiah, penulis membatasi pada masalah biaya promosi, dan hasil penjualan Rumah Makan Margajaya pada tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Dengan menggunakan metode analisis regresi berganda, koefisien korelasi dan koefisien determinasi dengan menggunakan software SPSS versi 13,0.
1.3 Tujuan Penelitian
            Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui pelaksanaan kegiatan promosi yang dilakukan oleh Rumah Makan Margajaya.
2.      Untuk menegetahui seberapa besar pengaruh biaya promosi yang di keluarkan oleh Rumah Makan Margajaya.
1.4 Manfaat Penelitian
            Manfaat yang diharapkan penulis dalam penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Manfaat Akademis
a.       Dapat membantu penulis memperdalam materi yang telah di ajarkan selama masa perkuliahan, serta menerapkan teori yang ada ke dalm dunia nyata ( dunia usaha )
b.      Dapat dijadikan acuan bagi penulis lain apabila ingin melakukan penelitian sejenis
2.      Manfaat Praktis
a.       Dari penulisan ilmiah ini diharapkan perusahaan dapat mengetahui seberapa besar peranan biaya periklanan berpengaruh terhadap peningkatan hasil penjualan pada Rumah Makan Margajaya
1.5 Metode Penelitian
            1.5.1 Objek Penelitian
Objek penelitian yang di ambil penulis adalah Rumah Makan Margajaya JL. Kampung Dua Ratus Bekasi ( samping Rumah Sakit Hermina Bekasi Barat )
            1.5.2 Data atau Variabel yang digunakan
            Data yang digunakan dalam penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Data Primer
Dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung kepada pihak pemilik Rumah Makan Margajaya.
2.      Data Sekunder
Dilakukan dengan memperoleh data yang dikumpulkan referensi yang berasal dari buku-buku serta contoh penulisan ilmiah lainnya yang berkaitan dengan masalah penelitian.
1.5.3 Metode Pengumpulan Data
            Dalam melaksanakan penelitian penyusunan melakukan teknik-teknik pengumpulan data berupa:
1.      Studi kepustakaan
Pengumpulan data dan pencarian informasi dilakukakan dengan menelaah buku yang terdapat di perpustakaan, bullletin dan sumber-sumber lain yang berkaitan dengan penelitian ini.
2.      Penelitian lapangan ( Field Research )
A.     Observasi
Yaitu melakukan pengamatan langsung ke lokasi yaitu Rumah Makan Margajaya untuk mendapatkan informasi yang di perlukan.
B.     Wawancara
Yaitu mengadakan wawancara langsung dengan pemilik serta karyawan Rumah Makan Margajaya.
1.5.4 Hipotesis
            Hipotesis dalam penulisan ilmiah ini :
H0 =  Koefisien regresi signifikan dan secara nyata mempengaruhi terhadap hasi penjualan pada Rumah Makan Margajaya
H1 = Koefisien regresi tidak signifikan atau tidak memepengaruhi secara nyata terhadap hasil penjualan paada Rumah Makan Margajaya
1.5.5 Alat analisis yang digunakan
            Untuk mengetahui data yang diperoleh selama penelitian pada penuliasan ilmiah ini, alat analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda , korelasi berganda. Dengan menggunakan pengujian software SPSS Versi 13.0 .

Selasa, 02 April 2013

SOFTSKILL : PENALARAN INDUKTIF

NUR FEBRIANTO
19210778
3EA18


PENALARAN INDUKTIF

Penalaran adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar. Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence). Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.Ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

Penalaran induktif merupakan prosedur yang berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasil pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang bersifat umum. Dalam hal ini penalaran induktif merupakan kebalikan dari penalaran deduktif. Untuk turun ke lapangan dan melakukan penelitian tidak harus memliki konsep secara canggih tetapi cukup mengamati lapangan dan dari pengamatan lapangan tersebut dapat ditarik generalisasi dari suatu gejala.

Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir denganbertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yangdiselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Dalam konteks ini, teori bukan merupakan persyaratan mutlak tetapi kecermatan dalam menangkap gejala dan memahami gejala merupakan kunci sukses untuk dapat mendiskripsikan gejala dan melakukan generalisasi.

Jenis-jenis penalaran induktif:

1. Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomenal individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena. Contoh:
a. Asmirandah adalah seorang pemain sinetron dan ia berparas cantik.
b. Putri Titian adalah seorang pemain sinetron dan ia berparas cantik.
Generalisasi: Semua pemain sinetron berparas cantik.

Dari segi bentuknya, ada 2 macam generalisasi (Gorys Keraf, 1994 : 44-45) yaitu:

a. Generalisasi dengan loncatan induktif (Generalisasi Sempurna)adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: Sensus penduduk suatu wilayah

b. Generalisasi tanpa loncatan induktif (Generalisasi Tidak Sempurna) adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir sebagian SMA di Indonesia memakai seragam putih abu-abu.

2. Analogi adalah proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. Tujuan Analogi:

- Meramalkan kesamaan
- Menyingkap kekeliruan
- Menyusun sebuah klasifikasi

Contoh:
Seorang penyanyi memiliki pola dan porsi latihan tersendiri. Biasanya selain berlatih vokal, ia juga harus menjaga pola makan agar tidak merusak suaranya dan meningkatkan kualitasnya. Begitu juga dengan seorang aktris. Mereka biasa berlatih demi meningkatkan kualitas beraktingnya. Oleh karena itu, menjadi seorang penyanyi maupun artis harus banyak berlatih demi meningkatkan kualitasnya masing-masing.

3. Kausal adalah penalaran yang diperoleh dari gejala – gejala yang saling berhubungan.
Macam-macam hubungan kausal :

a) Sebab- akibat.
Harga bahan pangan semakin naik, akibatnya tingkat kelaparan semakin menjadi.

b) Akibat – Sebab.
Bobi mendapat nilai C disebabkan dia tidak belajar dengan baik.

c) Akibat – Akibat.
Dia mendapat kecelakaan akibat menabrak trotoar. Akibat dari kecelakaan tersebut, dia mendapat luka parah.
 
SUMBER : BUKU